Pages

 

This is Your Life: Rayakanlah!

0 komentar

Ya, hidup anda adalah tanggung jawab anda. Bila tidak sesuai keinginan, ubahlah! Letakkan tanggungjawab di pundak anda. Bukan pada dia, mereka, kalian. Karena, satunya-satunya harta berharga bagi pecundang adalah kambing hitam. Maka, juallah kambing itu dan belilah hidup anda, dengan keringat anda.

Tidak ada yang mampu menyakiti anda kecuali seizin anda. Tidak ada juga yang mampu membahagiakan anda, tanpa seizin anda. Maka, rayakanlah hidup anda!

Berikut video yang lumayan menggetarkan adrenalin untuk tetap antusias. Silakan dihikmati, saya sendiri menjadi penonton ke-556,634.


sumber: This is Your Life | The Holstee Manifesto is a call to action to live a life full of intention, creativity, passion, and community.
Selanjutnya...

Radio Show, Tontonan nan Kreatif...

1 komentar

Saya tak ingat, kapan tepatnya terakhir kali tontonan TV menemani tengah malam saya. Mungkin, sewaktu Hughes dengan Angin Malam-nya.

Kini tidak lagi, ada tontonan yang menyegarkan malam-malam saya, dan, anda... Radio Show nama programnya.

Ya, di tengah menulis blog ini saya ditemani Radio Show. Acara anyar di TV One besutan host kreatif: Sys NS. Acara dua setengah jam ini bisa menjadi cacat produksi dan keburu 'almarhum' andai tak ada Sys NS di baliknya. Cacat produksi yang berarti minim penonton dan sukses menjadi stimulus kantuk.

Itu keyakinan saya.

Dan keyakinan saya menemukan bukti. Terlihat makin kesini, acaranya makin asyik dan berwarna. Beragam isu hangat, musik berat, bintang tamu berkelas bisa hadir dengan cair di sini. Respon penonton dan tamunya pun aduhai.

Sys NS, host yang tidak pernah tua, sukses menghelat acara yang memporakporandakan selera penonton kita: sinetron, musik boy band, dan humor garing. Setidaknya, menggugat rating AC Nielsen. Meski belum menemukan data validnya, saya berharap demikian adanya.

Semoga.
Selanjutnya...

Whitney Houston, Afriyani dan Titian Musibah Narkoba

0 komentar

Whitney Houston, kembali nama itu disebut dalam siaran Radio Show di TV One. Ya, benda bernama TV akhirnya terasa manfaatnya lewat program yang dibawakan Sys NS ini. Saya lupa kapan terakhir kali menonton talkhow tengah malam yang ada 'daging'nya. Hughes dengan Angin Malam-nya sudah terlalu lama tak tergantikan.

Whitney Houston meninggal. Tak aneh memang. Prestasinya sedramatis akhir hidupnya. Meski tak mati muda, penyebab kematiannya serupa yang didekap Kurt Cobain: narkoba.

Dengan narkoba, mereka mendapatkan efek pelarian fatamorgana dari kerlap sorak sorai pemuja. Meski sesaat dan fana.

Satu demi satu korban berguguran digilas 'bisnis' yang paling menggiurkan di dunia -memuncaki  bisnis senjata dan trafficking. Trilyunan rupiah mengintai setiap orang yang memanggilnya. Dia tidak mengenal: apakah Whitney Houston, Jim Morrison, Jimi Hendrix, Amy Winehouse, atau bahkan yang masih hangat, Afriyani! Semuanya bisa menjadi mangsa yang ranum.

Whitney Houston dan Afriyani sejatinya adalah korban. Alih-alih mencapai kesenangan, narkoba menghantarkan mereka ke titian musibah. Bagi nama yang pertama, bagi dirinya sendiri; yang terakhir, bagi orang lain.

Penyesalan sering mengetuk pintu kita lebih awal, tapi kita tak menyadarinya.

Masalah narkoba tentu tidak bisa diselesaikan dengan mengutuk, mengumpat, menyalahkan dan menghukum. Narkoba, tidak seperti kejahatan lainnya yang langsung memakan korban. Pecandu narkoba sering "memunculkan diri" justru ketika kondisinya telah final. Ibarat film Hollywood, ceritanya terasa lebih tragis dan dramatis ketika korban mulai banyak berjatuhan di akhir episode.  Bom waktu yang tersimpan di balik gunung es.

Bisnis dengan putaran uang spektakuler ini hanya bisa diselesaikan bila kita memahaminya sebagai masalah kita, bukan pemerintah saja. Pendekatannya, tentu tidak dengan hukuman. Karena, mereka bukan pelaku kriminal yang sedari awal berniat mencelakakan orang lain. Kadang dengan perhatian sudah lebih dari cukup untuk mengangkat sedikit beban mereka. Beri ruang share, tanda kita care.

Jadi, selamatkan lingkungan, keluarga, teman kita dari narkoba. Sekarang juga!

image: google.com
Selanjutnya...

Meretas Jalan di Perbatasan

4 komentar

Pada saat di dalam bis menuju Malaysia, anda tidak perlu melihat keluar jendela untuk mengetahui posisi anda. Cukup merasakan, apakah tidur anda makin nikmat. Bila ya, berarti anda sudah tiba di Malaysia. Bila terus terjaga, artinya, anda masih di Indonesia.

Demikian cerita legendaris yang menunjukkan “bumi dan langit” pembangunan di tapal batas Indonesia-Malaysia, tepatnya di Entikong, Kalimantan Barat.

Cerita ya hanya tinggal cerita, jika kita menjadikannya teman tawa di warung kopi. Setelah lepas tawa, cerita tadi kehilangan jejak.

Dahlan Iskan pernah berujar, ada tiga faktor yang harus dibenahi untuk memacu pertumbuhan ekonomi bangsa: reduksi korupsi, reformasi birokrasi, ditambah apa lagi kalau bukan peningkatan infrastruktur. Pernyataan ini tentu tidak hendak menyindir kawasan Perbatasan, meski demikian kenyataannya.

Seorang teman secara iseng menghitung ada dua puluhan titik kerusakan jalan antara Entikong dan Sanggau. Ini dilakukan pada awal Februari kemarin, dalam perjalanan road show Border Blogger Movement.

Dengan panjang jalan yang “minimalis”, belum lagi terjadinya kerusakan di sana sini. Terasa lengkap ketertinggalan Borneo dibanding kawasan lainnya di Indonesia, apalagi dibanding Malaysia. Jauuuh...



Infrastruktur, terutama jalan, sekian lama menjadi PR bagi pulau Borneo, terutama Kalimantan Barat. Berkaca dari Pontianak-Kapuas Hulu; Pontianak-Ketapang; Pontianak-Sambas, nyaris tidak terlihat mengularnya jalan yang menjadi akses perekonomian. Politik anggaran perlu dikoreksi untuk beranda terdepan negeri ini. Kucuran anggaran perlu ditingkatkan dalam mempercepat pembangunan infrastruktur di wilayah ini.

Meski bisa berdalih, bahwa persentase pembangunan jalan berbanding lurus dengan jumlah penduduk. Dalih sebaliknya tentu bisa juga dipakai bahwa luas wilayah bisa menjadi penguat alasan besar anggaran untuk infrastruktur. Bukankah bila gula sudah ditebar, maka semut akan berduyun datang menetap. Dan, Cina sudah membuktikannya!
Selanjutnya...