Pages

 

KORUPSI ITU…

2 komentar


IN MEMORIAM: CORRUPTION


Yaser: Bagaimana Anda melihat korupsi di Indonesia? (sambil menarik napas)
Ace: Sama seperti isu lainnya, korupsi hanya panas di tingkat wacana, tapi dingin di tataran aksi.
Yaser: Jadi Anda menilai aparat penegak hukum tidak serius menangani kasus korupsi?
Ace: Anda tidak bisa menyimpulkan seperti itu. Saya tidak ada niat untuk menyalahkan siapapun. Semakin banyak kita menyalahkan, maka solusi semakin menjauh.
Yaser: Begini maksud saya, selama ini negara kita terkenal dengan tingkat korupsinya yang tinggi, tapi di sisi lain koruptornya hampir tidak ada. Bukankah ini tanda lemahnya penegakan hukum?
Ace: Kalau kita mau jujur, bau korupsi itu ada di depan hidung kita. Di jalan, di sekolah, di kantor, di gedung dewan, dan di mana-mana. Apa yang mau kita tutupi? Namun sudahkah kita serius memetakan pencegahannya. Itu poinnya. Mengapa saya tidak berbicara mengenai pemberantasan. Karena saya melihat bila fokusnya pada pemberantasan justru kita tidak kemana-mana. Kita seakan jalan di tempat, dengan keriuhan suara derap kaki namun, tidak kemana-mana! Ingat lho, korupsi itu bisa menyebabkan AIDS dan penyakit masyarakat lainnya.
Yaser: (mengerutkan alis) Bagaimana Anda menjelaskan hubungan AIDS dan korupsi?
Ace: Sebuah tesa sederhana. Berdasarkan pantauan saya, masyarakat kita sebenarnya religius, meski hanya sebatas teori. Jago dalam menjelaskan teori bagaimana berenang yang baik, bagaimana tips agar tidak tenggelam. Namun tidak pernah sekali pun menyentuh kolam renang, tidak pernah terjun ke air. Begini, masyarakat kita menyadari bahwa apa pun makanan yang diasup, itu akan menjadi darah daging. Bila yang masuk dari sumber yang tidak halal, maka akan mendarah daging. Kaitannya dengan korupsi, di masyarakat berkembang: Duit hantu, di makan jin! Mereka tidak rela memberi nafkah yang tidak halal bagi keluarga mereka. Mereka tidak ingin anggota keluarganya memakan makanan dari sumber yang tidak halal. Lantas, ke mana mereka menghabiskan duit korupsinya? Ya, ke tempat maksiat, wanita simpanan, judi, bahkan narkoba. Tidak mungkin orang miskin melakukan hal demikian. Tanpa kita sadari jerat korupsi telah beranak pinak menjadi bentuk kejahatan lainnya.
Yaser: Wah, pendapat yang menarik. Kelak ini bisa menjadi bahasan tersendiri. Kita pertajam topik mengenai komitmen pemerintah. Kita melihat bersama bahwa pemerintah agaknya mulai serius menangani kasus korupsi.
Ace: Anda yakin. Bukankah selama ini korupsi bukannya berkurang, justru berpindah. Dari eksekutif ke yudikatif, aparat penegak hukum. Institusi yang justru menjadi tumpuan pemberantasan korupsi. Berbagai survey telah dipublish. Terang benderang kita melihat di media massa. Tapi sekali lagi, tegakah kita membiarkan itu semua? Saudara, teman, tetangga, tokoh masyarakat, atau kita bergelimang dalam korupsi. Na’uzubillah.
Yaser: Bisa Anda jelaskan lebih lanjut?
Ace: Terus terang, saya melihat bangsa kita sudah kehilangan banyak energi dalam menangani kasus korupsi ini. Wapres pernah bilang bahwa koruptor di Indonesia sangat nekad, karena bisa melewati 6 lapis lembaga. Ya, tentu saja nekad karena sapunya kotor. Mau 10, 20, 100 lembaga pun, kalau kita tidak berangkat dengan komitmen yang serius, pasti akan sia-sia.
Yaser: Apa solusi yang Anda tawarkan mengenai pemberantasan korupsi?
Ace: Hm, solusi? Saya rasa bukan hanya solusi yang pantas kita bicarakan saat ini, tapi soal komitmen. Saya tetap percaya bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Dalam konteks korupsi, saya kira menyelesaikan akar masalahnya lebih baik daripada hingar-bingar pemberantasannya. Saya yakin akar masalah korupsi itu adalah kemiskinan: Miskin iman dan miskin materi. Jadi korupsi bisa hadir karena kebutuhan dan korupsi karena keserakahan. Saya pernah berbincang dengan mantan Direktur sebuah Bank di Kalbar, berdasarkan kajiannya, untuk di Pontianak, gaji minimal pegawai sebesar 3 juta rupiah. Di sini saya tidak berbicara tentang nominal. Saya ingin menekankan aspek pencegahan terhadap korupsi karena kebutuhan. Corruption by need. Bila kebutuhan dasar, telah terpenuhi, apa alasan mereka untuk korupsi?
Yaser: Bukankah persoalannya tidak sesederhana itu? Anggaran kita jelas terbatas untuk menaikkan gaji pegawai.
Ace: Siapa bilang anggaran kita terbatas. Menurut Kwik Kian Gie, ada sekitar Rp 300,5 trilyun duit negara hilang dikorup. Artinya, bila kebocoran itu dapat dieliminir, kita pasti mampu menaikkan gaji pegawai.
Yaser: Anda pasti tahu, bahwa banyak juga pelaku korupsi di lapisan atas? Bukan semata masalah uang tentunya?
Ace: Ini bentuk korupsi karena keserakahan. Punish and reward harus ditegakkan. Bila kebutuhan mereka telah terakomodir lewat gaji yang memadai, namun tetap korupsi. Kita harus berani menghukumnya. Hukuman mati atau potong tangan, saya kira layak. Kita tidak ingin dosa korupsi dibawa mati. Enough.
Yaser: Lho, habis dong penduduk Indonesia, mungkin yang tinggal anak-anak sekolah, usia 17 tahun ke bawah hehehe.
Ace: Maaf saya belum menjelaskan, bahwa bingkai punishment itu harus didahului dengan zero condition. Ini sebenarnya telah dimulai KPK, dengan tidak adanya pengungkapan perkara yang berlaku surut. Saya rasa inilah yang harus dimulai Presiden SBY. Menggodok formulasi rekonsiliasi. Artinya, kegagalan masa lalu yang selalu membayangi dan membebani bangsa ini harus diakhiri dengan melakukan rekonsiliasi. Saya rasa kasus Pak Harto dapat menjadi momentum berharga penangan korupsi yang efektif. Memaafkan, kemudian memetakan bagaimana menginventarisasi harta-harta yang dapat dikembalikan ke negara. Saya rasa ini dapat menjadi bola salju dengan pengusutan kasus-kasus besar lainnya. Mungkin nominal uang negara yang dapat kembali mencapai ratusan trilyunan. Ini lebih dari cukup untuk menaikkan gaji pegawai 300%. Sebuah bentuk reward. Semua itu berlandaskan kesederhanaan berpikir namun membutuhkan keberanian dalam aksi. Ujian bagi Presiden SBY, akankah mampu bersikap tidak populis dalam mengambil keputusan seperti ini. Setelah kondisi ideal ini tercapai, punishment harus dijalankan setegas-tegasnya.
Yaser: Anda belum menyinggung masyarakat lainnya, sektor swasta misalnya.
Ace: Tentu saja, sektor swasta harus digerakkan. Namun tidak berupa bantuan tunai. Namun lebih dana produktif. Mereka harus berniat membuka usaha dan negara harus memberikan bantuan. Bentuk pengawasannya dapat dikaji lebih lanjut.
Yaser: Semakin lama semakin menarik perbincangan ini. Mudah-mudahan tidak ada lagi kata korupsi di bumi Indonesia. Terima kasih...
Ace: Alhamdulillah, semoga bermanfaat. Rasanya ada ganjalan bila buah pikiran ini tidak disampaikan. Terima kasih atas monolognya.

Note:
*1st Winner “Bangkit Lawan Korupsi” Poster Competition,
KPK , Jakarta, 2006
*Inspirasi dari "Apa Kabar Wahai Diriku?" (Tarbawi)
Selanjutnya...

BLOGMU HARIMAUMU

0 komentar
Kita diberi satu telinga, dua mulut dan,… Sepuluh jari. Sekali lagi: Sepuluh jari.
Artinya: Daripada ngomong sia-sia, lebih baik diam. Daripada diam, lebih baik menulis!


Tuhan seakan bertutur, sebaiknya Kita lebih banyak mendengar dibanding bicara. Cukup? Belum. Alangkah baiknya lagi lebih banyak menulis (dibaca: ngeblog) daripada berbicara, atawa mendengar.
Bola salju itu semakin menggelinding, blog menjadi fenomena yang unik, menarik dan penuh kearifan khas Indonesia. Dari “ijtihad” blogger.com, semua kearifan itu disatukan. Semangat bersuara mengejawantah. Setiap individu diberi ruang. Tanpa ruang hampa. Serba gratis. (Saya tidak bermaksud melupakan kehadiran pendahulu: geocities, tripod, dsb).
Blogmu, harimaumu. Jangan horor dulu dong. Alih-alih Harimau yang kerap dikambinghitam-kan sebagai pemangsa, justru makhluk ini bisa mendatangkan keuntungan, jika dapat dijinakkan. Jadi harimau sirkus misalnya hehehe. Demikian juga blog. Ia dapat menjadi alat multi manfaat bila digenggam tangan yang tepat. Namun bisa juga menjadi ladang kesia-siaan di tangan yang kering ide.
Saya terhenyak dengan ucapan Nek Aki Pram, “Menulis, bekerja untuk keabadian”. Menohok dan Menukik. Tajam. Pram tentu tidak semilitan Wilbur Wright. Dan tidak seimajinatif Da Vinci. Pram, saat meluncurkan petuah legendarisnya itu, saya yakin tidak membayangkan hadirnya sebuah media yang akan merevolusi kebiasaan seseorang dalam menulis. Sebuah blog. So bila ia hisup mungkin pendapat itu buru-buru diralatnya, ”ngeblog, bekerja untuk keabadian!”
Meski sebenarnya sebuah blog belum dapat menggambarkan seseorang secara utuh. Namun setidaknya setiap kata demi kata, topik demi topik, comment demi comment, dapat mengurai bentuk wajah, badan, kulit, bahkan isi hati dan otak seseorang, secara lengkap. Sedikit demi sedikit.
Anda bebas ngeblog. Menulis apa saja. Ya, Anda dapat menulis bak seorang jurnalis, lalu tulisan itu anda olah dengan pakaian redaktur, selanjutnya anda publish sesuai ideologi “media” anda, menjelmalah anda sebagai seorang “owner” media.
Tapi ingat semua itu meng-abadi. Anda akan dikenang melalui tulisan yang tertuang. Bila tulisan menjadi rangkaian dusta. Itu akan beranak pinak menjadi anak-cucu dusta. Bila kebaikan, itu akan melahirkan aliran puja. Tak jarang menjadi sebuah gerakan konkret.
“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya,” ujar sahabat Ali RA. Sebuah kalimat yang cukup menggugah (kembali) semangat menulis. Terbukti, lebih ke sini saya berusaha membangkitkan gairah tulis-menulis. Kelahiran tulisan jelas bukan semata sebuah ide. Untuk memulai menulis, rumusannya: 1% di otak, 99% di atas keyboard. Dalam proses penulisan: 1% di tangan, 99% di otak. Setelah selesai, 100% di tangan dan otak pembaca. Sedikit berformulasi :)
Lebih menarik bila saya menggarisbawahi kata kuncinya yaitu kata ilmu, dengan menulis apa yang diketahui, dirasakan, diamati, diselami, dialami (FYI, ilmu dan alami berakar dari kata yang sama, so artinya idem dito hehehe)
Jadi benarkan saya bila hanya menulis semampu dan setahu saya. Sekecil apa pun “mampu” dan “tahu”, saya akan berusaha menuliskannya. Semampu dan setahu sahaja. Tidak lebih. Tidak kurang.
Akhirnya selamat hari blogger, whats next…
Selanjutnya...